Pages

Friday, 17 May 2013

Everlasting Mom's Love

Kasih ibu, kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia

" Byuuurr ..... byuuuurrr ..... " Jelas sekali terdengar suara siraman air dari dalam kamar mandi. Dengan malas kulirik jam dinding di kamar ku. Oh my God, ini masih pukul 5 pagi, tapi sudah ada yang berani menyiramkan air ke tubuhnya sepagi ini, kataku dalam hati sambil menarik selimut agar terasa lebih hangat dan melanjutkan tidurku.

" Tyaaaaa ..... Banguuunn !! Sudah siang !! "

Okeee, itu suara mama yang setia menjadi alarm alami sejak aku tidak pernah lagi memakai weker atau alarm yang ada di handphone untuk membangunkanku di pagi hari. Sontak aku menoleh (lagi) ke arah jam dinding. What ?!!? Sudah pukul 7 kurang dan aku masih ada diatas tempat tidur !!!

Dengan sigap dan sekuat tenaga aku duduk di atas tempat tidur, berdoa sejenak, lalu bangkit untuk mencuci muka. Ketika melewati meja makan, hhhmmm, tercium aroma sedap masakan mama. Kutoleh dan, wooouuuwww, balado terong, ikan asin, serta tempe goreng sudah tertata rapi diatas meja sambil seakan - akan melambaikan tangan mengajakku untuk menyantapnya. Tetapi aku harus melewatinya dan masuk ke kamar mandi dan melakukan pekerjaan rumah yang menjadi bagianku.

Melakukan rutinitas pagi ini, membantu mama bersih - bersih rumah, terasa lebih berat dari biasanya. Karena, Aku bangun kesiangaaannn !!! Arrrgghhh !!!! Dengan cepat kusapu seluruh lantai rumahku dan kubersihkan beberapa bagian seadanya, lalu dengan berlari - lari kecil aku menuju kamar mandi. Mandi seadanya, dandan seadanya, dan minum segelas air putih. Kupanasi motorku, agar bisa langsung berangkat setelah aku mengambil sepatu di gudang.

Dengan sabar mamaku bertanya, " Kamu ndak sarapan ? "

Tapi kujawab dengan sedikit ketus, " Ndak, sudah ndak keburu, nanti kalau telat malah repot, soalnya harus bayar denda. "

" Ya sudah kalau gitu, mama sudah bangun pagi - pagi buat nyiapin makanan buat kalian, malah ndak ada yang makan. Kalau gitu besok ndak usah masak lagi !! ", teriak mama.

Aku hanya terdiam, memakai sepatu, lalu pamit berangkat kerja.

Sepanjang jalan aku berpikir. Ternyata yang mandi sepagi itu adalah mamaku. Mama bangun sepagi itu hanya untuk menyiapkan sarapan buat kami anak - anak nya. Tapi apa yang dia dapat, kami pergi meninggalkannya begitu saja dan tidak menyentuh sedikitpun masakan yang telah dibuatnya.

Tak terasa, karena di sepanjang jalan aku hanya melamun memikirkan kejadian pagi ini, aku sudah berada di dekat kantorku. Sampai di lampu merah dekat ruko tempat kantorku berada, aku melihat seorang ibu tua yang sedang menjajakan koran yang ada di tangannya. Kulihat punggungnya telah bungkuk, jalannya pun sudah sempoyongan, dan terlihat kurus sekali. Tidak seharusnya di jam - jam seperti ini dia ada di situ untuk bekerja. Mungkin juga sebenarnya dia tidak ingin ada di jalan raya seramai ini di usianya yang sudah tidak muda lagi. Seharusnya dia ada di rumah, bersantai dengan anak dan cucunya, sarapan bersama mereka .....

" Sarapan ..... " Tak terasa air mataku menetes. Mungkin banyak mama diluar sana yang tidak bisa melakukan apa yang setiap pagi mamaku lakukan. Menyiapkan sarapan dan menyantapnya bersama dengan anak - anaknya. Tapi apa yang aku lakukan, aku pergi ke kantor tanpa mengucapkan terima kasih ke mama karena telah menyiapkan sarapan untukku. Padahal itu semua salahku karena aku tidak bisa bangun lebih pagi.

Yang kusyukuri sampai detik ini adalah, mamaku masih tetap membuatkan kami sarapan dan selalu sarapan bersama di meja makan kecil kami. Dengan menu sederhana, namun hangatnya cinta seorang ibu yang membuatnya menjadi mewah.


1 comments:

Marli said...

Touchy.. :') keep on sharing.. you'll be amazed how you could bless others through this simple blogs and bless yourself too.. especially as a refelction of your life lil' girl :D

Post a Comment