Kasih ibu, kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
" Byuuurr ..... byuuuurrr ..... " Jelas sekali terdengar suara siraman air dari dalam kamar mandi. Dengan malas kulirik jam dinding di kamar ku. Oh my God, ini masih pukul 5 pagi, tapi sudah ada yang berani menyiramkan air ke tubuhnya sepagi ini, kataku dalam hati sambil menarik selimut agar terasa lebih hangat dan melanjutkan tidurku.
" Tyaaaaa ..... Banguuunn !! Sudah siang !! "
Okeee, itu suara mama yang setia menjadi alarm alami sejak aku tidak pernah lagi memakai weker atau alarm yang ada di handphone untuk membangunkanku di pagi hari. Sontak aku menoleh (lagi) ke arah jam dinding. What ?!!? Sudah pukul 7 kurang dan aku masih ada diatas tempat tidur !!!
Dengan
sigap dan sekuat tenaga aku duduk di atas tempat tidur, berdoa sejenak,
lalu bangkit untuk mencuci muka. Ketika melewati meja makan, hhhmmm, tercium aroma sedap masakan mama. Kutoleh dan, wooouuuwww,
balado terong, ikan asin, serta tempe goreng sudah tertata rapi diatas
meja sambil seakan - akan melambaikan tangan mengajakku untuk
menyantapnya. Tetapi aku harus melewatinya dan masuk ke kamar mandi dan melakukan pekerjaan rumah yang menjadi bagianku.
Melakukan rutinitas pagi ini, membantu mama bersih - bersih rumah, terasa lebih berat dari biasanya. Karena, Aku bangun kesiangaaannn !!! Arrrgghhh !!!!
Dengan cepat kusapu seluruh lantai rumahku dan kubersihkan beberapa
bagian seadanya, lalu dengan berlari - lari kecil aku menuju kamar
mandi. Mandi seadanya, dandan seadanya, dan minum segelas air putih.
Kupanasi motorku, agar bisa langsung berangkat setelah aku mengambil
sepatu di gudang.
Dengan sabar mamaku bertanya, " Kamu ndak sarapan ? "
Tapi kujawab dengan sedikit ketus, " Ndak, sudah ndak keburu, nanti kalau telat malah repot, soalnya harus bayar denda. "
" Ya sudah kalau gitu, mama sudah bangun pagi - pagi buat nyiapin makanan buat kalian, malah ndak ada yang makan. Kalau gitu besok ndak usah masak lagi !! ", teriak mama.
Aku hanya terdiam, memakai sepatu, lalu pamit berangkat kerja.
Sepanjang jalan aku berpikir. Ternyata yang mandi sepagi itu adalah mamaku.
Mama bangun sepagi itu hanya untuk menyiapkan sarapan buat kami anak -
anak nya. Tapi apa yang dia dapat, kami pergi meninggalkannya begitu
saja dan tidak menyentuh sedikitpun masakan yang telah dibuatnya.
Tak
terasa, karena di sepanjang jalan aku hanya melamun memikirkan kejadian
pagi ini, aku sudah berada di dekat kantorku. Sampai di lampu merah
dekat ruko tempat kantorku berada, aku melihat seorang ibu tua yang sedang
menjajakan koran yang ada di tangannya. Kulihat punggungnya telah
bungkuk, jalannya pun sudah sempoyongan, dan terlihat kurus sekali. Tidak seharusnya di jam - jam seperti ini dia ada di situ untuk bekerja. Mungkin juga sebenarnya dia tidak ingin ada di jalan raya seramai ini di usianya yang sudah tidak muda lagi. Seharusnya dia
ada di rumah, bersantai dengan anak dan cucunya, sarapan bersama mereka .....
" Sarapan ..... "
Tak terasa air mataku menetes. Mungkin banyak mama diluar sana yang
tidak bisa melakukan apa yang setiap pagi mamaku lakukan. Menyiapkan
sarapan dan menyantapnya bersama dengan anak - anaknya. Tapi apa yang
aku lakukan, aku pergi ke kantor tanpa mengucapkan terima kasih ke mama
karena telah menyiapkan sarapan untukku. Padahal itu semua salahku
karena aku tidak bisa bangun lebih pagi.
Yang
kusyukuri sampai detik ini adalah, mamaku masih tetap membuatkan kami
sarapan dan selalu sarapan bersama di meja makan kecil kami. Dengan menu
sederhana, namun hangatnya cinta seorang ibu yang membuatnya menjadi
mewah.

